CONTOH PENULISAN TEKS EKSPOSISI : Dengan tema “Penggunaan Kata”

KATA

                Kata adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna. Karena setiap kata memiliki makna, kita menggunakannya untuk menyampaikan pendapat, menyampaikan ide atau pikiran, bahkan untuk menyatakan rasa. Kita menyatakan bahwa kita marah, melalui kata. Kita mengungkapkan bahwa kita sedih, juga melalui kata. Dan, karena setiap kata memiliki makna, kita harus mampu menggunakannya dengan bijaksana agar makna yang hendak kita sampaikan tidak salah alamat atau disalahartikan.

Ada banyak kata yang kita gunakan dalam keseharian. Salah satu di antaranya yang saat ini seringkali diucapkan oleh anak muda adalah “anjir!” Kata tersebut, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefenisikan sebagai ‘terusan; saluran (air); kanal.’

Kata “anjir” sering digunakan oleh remaja (anak muda) untuk mengekspresikan kekagetan, kekesalan, atau kekaguman terhadap sesuatu. Dalam penggunaannya, kata ini menduduki fungsi sebagai kata seru; jauh dari fungsi kata berdasarkan makna yang sesungguhnya!

Jika ditelusuri, kata “anjir” sebenarnya berasal dari kata “anjing!” yang bentuk dan maknanya telah mendapat pelesetan. Kata “anjing” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefenisikan sebagai ‘binatang menyusui yang biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu, dsb.’ Akan tetapi, dalam pemakaiannya, kata ini memiliki konotasi* negatif. Kata ini digunakan untuk mengungkapkan ekspresi marah, kesal, jijik dan sejumlah ekspresi negatif lainnya. Ketika seseorang mengucapkan, “Anjing!” kepada orang lain, berarti sang lawan bicara dianggap memiliki sifat yang sama, yaitu kasar, kotor, dan menjijikkan. Sebuah konotasi yang jelas tidak diinginkan oleh siapapun untuk dilekatkan pada dirinya!

Dalam sebuah blog di internet, tertulis definisi kata “anjir” sebagai ‘merupakan plesetan dari kata ‘a***ng, yang mendapatkan perluasan makna menjadi hampir sama dengan ungkapan ‘waw’, ‘gilak’, ‘asem’, dll. <https://kitabgaul.com>. Bahkan, penulis blog tersebut dengan sengaja menyamarkan tulisan “anjing” menjadi “a***ng.” Hal ini sengaja dilakukan untuk menunjukkan kesadaran penulis akan negatifnya konotasi yang menyertai kata tersebut.

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V yang tebit pada tahun 2016 sudah memuat 127.000 lema** (kata), ditambah dengan bentuk-bentuk turunannya. Ini berarti Bahasa Indonesia sudah sangat kaya akan kosa kata yang seharusnya mampu mewakili konsep, ide, gagasan, dan rasa yang hendak kita sampaikan. Ada sejumlah sinonim yang juga bisa digunakan untuk mengungkapkan makna yang sama.

Untuk memilih kata yang tepat dengan makna dan konotasi yang tepat, yang dibutuhkan hanyalah sedikit kreativitas. Yang terpenting adalah pemahaman yang diikuti oleh keinginan untuk menggunakan kata-kata tersebut dengan memerhatikan faktor lain, seperti etika. Dengan alasan etika, kita dapat menggunakan kata “Wow!,” atau “Astaga!” untuk menunjukkan ekspresi kekaguman atau kaget. Kita juga bisa menggunakan kata “Aduh!” atau “Idih!” untuk mengungkapkan kekesalan, sebagai pengganti kata “anjir.”

Kata hanyalah alat untuk menyampaikan ide, gagasan, dan pikiran, serta menunjukkan rasa. Oleh sebab itu, kita seharusnya bisa menggunakannya dengan bijaksana. Pemilihan kata yang tepat akan menghasilkan pemahaman yang tepat. Kita bisa menyampaikan ide dengan baik dan dipahami dengan baik oleh lawan bicara, tanpa harus diikuti oleh rasa yang tidak seharusnya.

Kita sering mendengar pepatah yang mengatakan, “Bahasa menunjukkan bangsa.” Jika ingin ditempatkan di tempat yang terhormat, gunakanlah kata secara tepat dengan makna dan konotasi yang tepat!

(Suyani Waruwu, S.S.)

Catatan:

*     konotasi: tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata; makna yang ditambahkan pada makna sebenarnya.

**   lema: kata atau frasa masukan dalam kamus di luar definisi atau penjelasan lain yang diberikan dalam entri; butir masukan; entri.