Di Mata Anakku | Cerpen Cerita Sejarah

Sudah tiga hari anakku dirawat di Rumah Sakit Umum Gunungsitoli. Kondisinya semakin hari terlihat semakin membaik, meskipun perubahannya terasa begitu lamban. Di satu sisi, ada rasa syukur yang terbersit diam-diam. Menemani anakku di rumah sakit adalah kesempatan terbaik yang aku miliki untuk bisa menjauh dari kehidupan keluarga suamiku yang semakin hari semakin tak dapat aku pahami.

 

***

 

Aku lahir dalam keluarga yang sangat sederhana. Karena kemampuan finansial keluarga yang sangat terbatas, aku memilih untuk bekerja begitu lulus SMA. Aku tidak berani berangan-angan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Buat amagu*, bisa menyekolahkan kami hingga lulus SMA saja sudah luar biasa. Anak-anak seusiaku, sebagian tidak dapat meneruskan sekolah. Ada yang hanya lulus SMP, bahkan ada yang hanya lulus SD.

 

Sebagai perempuan, dalam budaya Nias yang masih sangat kental, pendidikan adalah hal yang bisa dibilang anugrah. Mengutamakan anak laki-laki dalam mengenyam pendidikan adalah hal yang tidak dapat ditawar. Jika orangtua mampu dan berkenan maka anak perempuannya akan diberi kesempatan mengenyam pendidikan. Jika kemampuan mereka terbatas maka anak-anak perempuan harus ikhlas tinggal di rumah, bahkan ikut bekerja mencari nafkah agar biaya hidup dan biaya sekolah saudara-saudaranya laki-laki dapat terpenuhi.

 

Lagi-lagi, aku bersyukur karena kami terlahir sebagai tujuh orang perempuan yang dibesarkan dalam keluarga yang mendapatkan kasih sayang yang bisa dibilang rata. Kami tidak memiliki saudara laki-laki. Dengan begitu, seluruh penghasilan orangtua kami digunakan untuk membesarkan dan menyekolahkan kami. Akan tetapi, dengan jumlah tujuh orang, kemampuan kedua orangtua kami tentunya juga terbatas.

 

Amagu adalah seorang pegawai negeri sipil dengan golongan rendah. Ijasahnya hanya SMP. Dan, karena anugrah Tuhan, ia mendapat kesempatan untuk menyelesaikan sekolah jenjang SMA dengan biaya dari pemerintah. Dan sejak lulus SMA, beliau bertekad untuk menyekolahkan anak-anaknya, minimal setara dengan dirinya, lulus SMA.

 

***

 

Setelah lulus SMA, aku memilih untuk mengikuti tes masuk pegawai negeri sipil. Alhasil, aku diterima menjadi karyawan tata usaha di sebuah sekolah. Pekerjaan yang tidak mudah mengingat aku tidak pernah mendapatkan pelatihan untuk menjalani pekerjaan itu. Aku hanya punya modal kemampuan mengetik dengan mesin ketik. Sisanya adalah kemauan untuk bekerja keras, mengumpulkan uang sebisa mungkin, dan suatu saat melanjutkan studi dengan biaya sendiri.

 

Dengan perjuangan yang tidak mudah, aku menjalani profesi sebagai karyawan tata usaha sambil menjalani kuliah S1 di Universitas Terbuka. Aku mampu menyelesaikan kuliah selama tiga tahun persis dengan nilai yang sangat baik.

 

Setelah menyelesaikan kuliah dan masih menjalani pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil selama beberapa tahun, aku mulai dikenalkan dengan beberapa laki-laki oleh orangtua dan teman-temanku. Usia yang sudah lebih dari dua puluh lima tahun, bagi perempuan Nias saat itu adalah usia yang dianggap sudah sangat lanjut untuk menikah. Sebutan “tidak laku” sudah mulai disematkan, disertai cibiran dan berbagai sindiran.

 

“Jelas saja tidak laku, dia itu sibuk mengejar pendidikan. Padahal, perempuan akan berakhir di dapur!” Ini adalah kalimat yang sering sekali terdengar dan cukup membuat panas telinga kedua orangtuaku. Mereka dianggap tidak dapat mendidik anak dengan benar. Mereka dianggap sebagai orangtua yang bisa disetir oleh anak-anaknya. Dan semua tudingan itu, benar-benar memojokkan mereka. Aku tahu, semua sindiran itu mereka terima dengan rasa sakit, meskipun ekspresi yang muncul adalah tersenyum dan sebuah kalimat penuh kepasrahan, “Biarlah… suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukan dia dengan jodohnya.”

 

Dengan setengah hati, aku menerima lamaran dari keluarga suamiku. Sebuah keputusan yang kukira akan menyelesaikan semua persoalan yang selama ini kami hadapi. Aku tidak perlu lagi melihat wajah murung inagu setelah mendengar sindiran dari tetangga atau saudara yang kebetulan mampir ke rumah. Aku tidak perlu lagi mendengar mereka mengeluh, “Kami ini sudah tua. Kalau nanti kami dipanggil Tuhan, siapa yang akan merawatmu? Kakak-kakakmu sudah menikah. Bahkan adikmu yang nomor enam juga sebentar lagi akan menikah. Kami tidak memiliki anak laki-laki yang bisa meneruskan tugas kami untuk merawatmu seandainya kami sudah tidak ada lagi nanti.”

 

***

 

Menjalani kehidupan pernikahan ternyata jauh lebih berat daripada yang pernah kubayangkan. Seandainya waktu dapat diputar kembali dan aku diberi kesempatan untuk memilih, aku akan memilih untuk melajang seumur hidup!

 

Kemampuan finansial keluarga kecilku sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami berdua. Persoalannya, sebagaimana layaknya seorang menantu, aku harus menyerahkan seluruh gaji yang kuperoleh setiap bulan ke tangan ibu mertuaku. Setiap kali, aku harus meminta uang untuk membeli bensin dan membeli kebutuhanku setiap hari dari ibu mertuaku. Hal yang bahkan tidak pernah dilakukan inagu sejak aku bekerja. Beeliau membebaskan kami menggunakan uang penghasilan kami dalam bekerja, sebebas-bebasnya. Beliau hanya mengingatkan saja agar kami menghemat dan belajar untuk menabung.

Amagu, apalagi. Beliau sangat percaya bahwa kami sudah cukup dewasa untuk menggunakan setiap rupiah penghasilan kami dengan bijaksana.

 

Daripada harus meminta uang dari ibu mertuaku, aku memilih untuk mengambil uang tabunganku sedikit demi sedikit. Setiap kali aku harus meminta uang yang sebenarnya adalah uangku sendiri, aku harus siap menerima omelan. “Jadi istri kok boros banget? Sebentar-sebentar minta uang, sebentar-sebentar minta uang. Kamu jangan lupa bahwa biaya pernikahan kalian masih mnyisakan utang yang sangat besar. Uang yang kamu berikan ke saya setiap bulan saya gunakan untuk membayar utang-utang itu….” Rentetan kalimat penyesalan yang harus kudengarkan dengan kepala tertunduk.

 

Setiap kali mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut ibu mertuaku, terasa seperti goresan pisau yang tidak berhenti menyayat perasaanku. Harga diriku terus-terusan diinjak-injak. Aku bekerja siang dan malam tanpa bisa menikmati hasilnya sama sekali.

 

Untuk menyenangkan mereka, aku berusaha untuk tidak membantah. Setiap pagi aku harus bangun lebih pagi dari siapapun, memasak, menyiapkan sarapan buat seluruh anggota keluarga, menyiapkan perlengkapan suamiku ke kantor, sebelum aku sendiri mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja. Sedikit kesalahan saja akan membuat ibu mertuaku mengumpat habis-habisan. “Perempuan yang tidak berguna! Kamu tidak pernah diajar menata meja makan dengan baik ya? Kampungan!” dan sejumlah sumpah serapah lainnya. Kehidupan yang kujalani, terlalu jauh dari bayanganku selama ini tentang pernikahan.

 

Suami yang tadinya kupikir begitu menginginkan aku menjadi istrinya karena alasan cinta, ternyata salah. Ia lebih mencintai ibunya. Ia tega ikut menyerapahiku bersama dengan ibunya. Ibunya tidak pernah bersalah. Aku selalu menjadi orang yang bersalah di hadapannya. Untung saja ia tidak pernah sekalipun melayangkan tangannya untuk memukul atau menyakitiku secara fisik.

 

***

 

Jam di dinding menunjukkan pukul 23.00. Malam itu, 28 Maret 2005, adalah malam ketiga kami menginap di rumah sakit. Anakku yang masih mendapatkan suntikan infus, tampak begitu lemah. Di satu sisi aku merasa lebih tenang karena selama tiga hari ini tak ada sumpah serapah yang harus memenuhi telinga dan kepalaku. Tak ada umpatan-umpatan yang harus menyayat-nyayat perasaanku. Dan tak ada sindiran-sindiran yang menginjak-injak harga diriku.

 

Akan tetapi, kondisi anakku yang masih sangat lemah membuat rasa iba keibuanku lebih terluka. Aku jarang memperhatikan kebutuhan Nia, anakku. Aku terlalu sibuk dengann pekerjaan kantor dan segala pekerjaan rumah yang seakan tidak pernah ada habisnya. Keinginanku untuk menyerah, tertuda untuk sesaat. Rintihan Lia yang sesekali memanggil namaku ternyata jauh lebih menyayat dibandingkan sayatan serapah ibu mertuaku selama beberapa bulan ini.

 

Pukul 23.09, tiba-tiba aku merasakan getaran yang sangat dahsyat. Aku dan semua penghuni rumah sakit panik. Aku meraih tiang infus yang seolah menari, terus-terusan menjauhi tanganku. Bunyi sirene rumah sakit mulai meraung, membangunkan seluruh penghuni rumah sakit.

 

Dengan sekuat tenaga, aku meraih tiang infus anakku, berlari menyusuri lorong rumah sakit. Entah kenapa, lorong ini terasa begitu panjang. Entah kapan kami akan tiba di ujungnya.

 

Dengan terseok-seok, akhirnya kami tiba di gerbang rumah sakit. Aku berhenti sesaat, mencoba mengikuti arah orang-orang yang berlari. Mereka menuju arah pegunungan. Peristiwa tsunami bulan Desember yang lalu telah mengajarkan kami untuk mengantisipasi dampak gempa, yaitu tsunami.

 

Dengan wajah ketakutan, semua orang berlari ke arah yang sama. Aku mengikuti sambil memegang tiang infus anakku dengan tangan kanan dan memeluknya erat dengan tangan yang lain. Karena lelah berlari, aku mulai memperlambat laju jalanku, membiarkan orang-orang mendahuluiku. Seorang perawat tiba-tiba meraih lenganku, “Jangan berhenti, Bu.” Tangannya kemudian meraih tiang infus anakku dan membantu mendorongnya sembari menarik lenganku, mengikuti lajunya.

 

Setiba di atas bukit, suasana benar-benar penuh kepanikan. Sebagain orang menangis histeris, memanggil-manggil anggota keluarganya. Ada juga yang berdoa, berteriak-teriak menyerukan nama Tuhan. Listrik padam. Kami hanya bisa melihat sekeliling dengan penerangan seadanya dari senter yang rata-rata menggunakan aplikasi hape. Aku merasakan kedua kakiku menjadi lemas begitu melihat tabung infus anakku dipenuhi cairan berwarna merah. Posisinya yang tidak stabil selama kami berlari mengakibatkan darahnya masuk ke dalam botol infus, melewati jarum suntik.

 

Nia adalah satu-satunya alasanku bertahan hidup. Aku tidak tahu lagi apakah aku masih bisa menapaki jalan hidupku tanpa kehadirannya. Dan kini, semua menjadi gelap.

 

***

 

Suara suamiku pagi itu membuat aku terbangun. “Terima kasih, sudah menjaga anak kita dengan baik. Sekarang dia lagi tidur,” ujarnya sambil menyodorkan Nia ke arahku. Sebuah ucapan terima kasih? Kalimat yang baru kali ini keluar dari mulutnya sejak kami menikah.

 

Bayi kecilku, ternyata masih bisa memberikanku senyum manisnya. Terima kasih Tuhan. Aku masih diizinkan menjalani hidup ini bersamanya.!

 

Kekagetanku akan ucapan terima kasih dari suamiku, tidak berhenti sampai di situ. Lebih kaget lagi ketika ia menceritakan bahwa tadi malam ia berniat menjenguk kami di rumah sakit. Tetapi, gempa yang dahsyat menghentikan langkahnya. Posisinya saat itu baru beberapa meter dari rumah. Ia langsung berbalik badan. Sayangnya, ketika ia melihat ke dalam rumah, ibunya sudah terjatuh tertimpa lemari pakaian. Di tengah goncangan gempa yang dahsyat itu, ia berusaha mengeluarkan sang ibu dari himpitan lemari.

 

“Sekarang ibu dalam kondisi kritis. Ia memintaku mencari kamu dan anak kita. Setelah aku berhasil mengeluarkannya dari himpitan lemari tadi malam, ia memintaku mencari kalian dan memilih untuk tergeletak di depan rumah.” Demikian suamiku memaparkan. Warga yang membawanya ke pos kesehatan. Beliau mengalami luka yang sangat serius.

 

Aku melihat wajah Nia. Aku merasakan denyut jantungnya dan sungguh-sungguh bersyukur akan kehadirannya dalam hidupku. Tatapan matanya yang masih sangat lemah mengajariku tentang cinta seorang ibu pada darah dagingnya.

 

“Pulanglah Pa. Temani Ibu. Aku baik-baik saja.” Dalam sekejap, aku merasakan seluruh kebencian terhadap suamiku dan ibu mertuaku, menguap begitu saja.

Ibu: Dimata Anakku




















Catatan:
* Amagu adalah panggilan untuk ayah. “Ama” berarti ‘ayah’, “-gu” berarti “-ku”. Amagu berarti “ayahku.”
* Inagu adalah panggilan untuk ibu. “Ina” berarti ‘ibu.’

Suryani Waruwu, S.S. (Guru Bahasa Indonesia)