Media Sosial dan Remaja

Era teknologi informasi sudah semakin maju, siapa yang terlambat “mengenalnya” pasti ketinggalan alias “gaptek” atau gagap teknologi. Di jaman sekarang sangat diperlukan keberadaan kita dalam mengenal dunia luar melalui perangkat teknologi, media sosial, internet of things dan lain-lain. Namun dalam menanggapi semua itu kita harus bisa mengontrol diri agar tidak terjebak di dalamnya dan sudah pasti perlu pengawasan untuk anak-anak remaja dari orang tua mereka masing-masing.

Media sosial

Perkembangan teknologi informasi telah membuat cara berpikir dan interaksi setiap orang yang ada di dalamnya berubah. Salah satu penggunaannya adalah melalui internet, dimana internet menjadi alat digital yang membawa setiap individu ke sebuah ruang digital baru. Perkembangan  teknologi informasi yang begitu cepat menuntut individu untuk ”berlari” mengenal teknologi tersebut, dimana semakin majunya teknologi informasi memberikan kemudahan bagi pengguna yang ada di dalamnya.

Keberadaan internet menciptakan generasi baru, generasi yang dipandang sebagai generasi masa depan yang tumbuh dalam lingkungan budaya media digital yang sangat interaktif, namun sayangnya bisa membentuk pribadi yang “desosialisasi”, yaitu berkomunikasi secara individual, “melek” teknologi, yang dibesarkan dengan dunia games online, hingga akhirnya tidak mengenal dunia luar.

Terjadinya pergeseran budaya, dari media tradisional ke media digital. Salah satunya adalah media sosial, yang sangat berpengaruh di Indonesia, contohnya Facebook. Tingkat penggunaan media sosial di indonesia khususnya dikalangan remaja sangat tinggi. Mereka mengakses media sosial untuk mencari informasi dan pertemanan, saling berbagi informasi kegiatan yang sedang dilakukan. Hasil dari survey yang dilakukan oleh Kementerian Kominfo (Suara Merdeka, 27 Maret 2015), menunjukkan 5 media sosial terpopuler di Indonesia, yaitu Facebook dengan 65 juta pengguna, Twitter 19,5 juta pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna, LinkedIn 1 juta pengguna, dan Path 700 juta pengguna.

Semuanya itu mereka lakukan untuk mencari identitas diri. Yang mungkin mereka tidak temukan di dalam keluarga, komunitas dan lain sebagainya. Identitas  menurut  Klap  (Berger,  2010:  125)  meliputi  segala  hal  pada  seseorang yang dapat menyatakan secara sah dan dapat dipercaya tentang dirinya sendiri statusnya, nama, kepribadian, dan masa lalunya.

Salah satu teori yang perlu kita ketahhui adalah Social  Identity  Theory  (SIT) menurut  Tajfel  &  Turner  (Gudykunst,  2002:  225) bertujuan bahwa individu memiliki sebuah konsep pada dirinya sendiri dalam bersosialisasi dan  mengidentifikasi  dirinya  sendiri.

Inilah yang dinamakan fenomena media sosial dalam membentuk identitas remaja, perilaku yang terbentuk saat kita mengikuti perkembangan teknologi informasi tanpa melakukan penyaringan secara sempurna.

Kecanduan media sosial merupakan fenomena yang sering terjadi saat ini dengan meningkatnya penggunaan internet dan berkembangnya teknologi informasi. Kecanduan media sosial diakibatkan oleh hal berikut yaitu faktor kontrol diri.  Seandainya setiap remaja dapat mengontrol dirinya dalam penggunaan internet, dalam hal ini penggunaan media sosial yang bijak, maka cenderung segala kegiatan yang berkaitan dengan mengakses internet memiliki tujuan yang jelas, yaitu untuk memudahkan segala aktivitas dikehidupan sehari-hari, mencari data atau informasi untuk tujuan  yang jelas.

Kecenderungan para remaja sering menggunakan media sosial, menggambarkan gaya hidup yang mengikuti perkembangan jaman, mengangkat popularitas mereka, walau sebenarnya apa yang mereka postingkan atau masukan ke dalam media sosial tidak semuanya benar sesuai keberadaan mereka yang sebenarnya. Tanpa disadari mereka sedang membentuk ruang interaksi dunia maya mereka sendiri tanpa memperdulikan keadaan sekitar mereka. Inilah yang dinamakan dengan kecanduan terhadap media sosial. Selain itu penggunaan media sosial dalam membentuk identitas diri mereka, menunjukkan bahwa Nilai individu yang ditampilkan dalam media sosial, para remaja mencoba membuat sebuah  citra  positif  tentang  diri  mereka di  media  sosial  tersebut. Remaja  suka menampilkan  identitas  mereka  yang Smart, terlihat  bahagia,  dan  suka  menampilkan hobi atau kegiatan yang mereka sukai. Keterbukaan diri mereka melalui keinginan mereka untuk eksis dengan mengupload kegiatan yang sedang mereka lakukan.

Remaja  yang memiliki tingkat kecenderungan kecanduan media sosial tinggi dan kontrol diri tinggi diharapkan untuk mengembangkan kontrol diri yang dimiliki. Remaja diharapkan mengembangkan kontrol diri berdasarkan faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri, sehingga dengan kemampuan kontrol diri yang dikembangkan dari dalam diri akan mengurangi kecenderungan kecanduan media sosial.

Menurut Chrish Garret media sosial adalah alat, jasa dan komunikasi yang memfasilitasi hubungan antar orang dan memiliki peminat yang banyak tidak terkecuali para remaja, bahkan usia di bawah umur sudah memiliki akun media sosial pribadi. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sebaiknya para remaja menggunakan media sosial secara tepat dan bijak. Disini diperlukan peran orang tua dalam mengarahkan dan memberikan pengertian dalam menggunakan media sosial.

Media sosial tidak terlepas dari dampak positif maupun negatif. Namun dampak itu tergantuk dari setiap penggunanya sendiri. Pilihan ada di pengguna media sosial tersebut.

Dampak positif :

  • Menjaga hubungan dengan keluarga ataupun saudara yang jauh dan sudah lama tidak bertemu, kemudian lewat media sosial hal itu bisa dilakukan.
  • Sebagai sumber belajar dan mengajar media sosial memiliki dampak yang sangat besar sekali. Kita dapat browsing dan belajar ilmu pengetahuan yang baru disana. Karena internet banyak topik dan sumber ilmu terbaru.
  • Media penyebaran informasi. Hanya dalam tempo beberapa menit setelah kejadian, kita telah bisa menikmati informasi tersebut.
  • Memperluas jaringan pertemanan. Dengan menggunakan media sosial kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja, bahkan yang belum dikenal sekalipun.
  • Sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan. Pengguna media sosial dapat belajar bagaimana beradaptasi, bersosialisasi dengan publik.
  • Media sosial sebagai media komunikasi. Pengguna media sosial dapat berkomunikasi dengan pengguna diseluruh dunia.
  • Media sosial sebagai media promosi dalam berbisnis. Hal ini memungkinkan para pengusaha kecil dapat mempromosikan produknya tanpa mengeluarkan biaya yang besar.

Dampak negatif :

  • Susah bersosialisasi dengan orang-orang sekitar. Disebabkan karena mereka malas belajar berkomunikasi secara nyata. Orang yang aktif dalam media sosial, jika bertemu lansung nyatanya adalah orang yang pendiam dan tidak banyak bergaul.
  • Media sosial membuat seseorang hanya mementingkan diri sendiri. Mereka menjadi tidak sadar dengan lingkungan mereka, karena mereka banyak menghabiskan waktu di internet.
  • Berkurangnya kinerja, karyawan perusahaan, pelajar, mahasiswa yang bermain media sosial pada saat mengerjakan pekerjaannya akan mengurangi waktu kerja dan waktu belajar mereka.
  • Kejahatan dalam dunia maya. Kejahatan ini dikenal dengan nama cyber crime. Kejahatan dunia sangat banyak macamnya seperti : hacking, cracking, spaming, dan lainnya.
  • Pornografi. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Terkadang seseorang memposting foto yang seharusnya menjadi privasi sendiri di media sosial. Hal ini sangat berbahaya karena bisa jadi postingan tersebut digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

 

KONTROL DIRI SANGAT DIPERLUKAN DALAM MENGIKUTI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI.

(Galatia 5 : 23 kelemahlembutanpenguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu ).

Tips : Pada Galatia 5 : 23 menggambarkan  aspek kehidupan yang berkaitan dengan hubungan kita dengan diri sendiri.

Kelemahlembutan.

Memberi perhatian kepada sesama dan selalu peka terhadap hak-hak sesama, kaitannya dengan judul dari tulisan ini adalah jangan karena media sosial kita sebagai remaja tidak peduli terhadap sesama kita, menjadi orang yang egois, tidak memperdulikan lingkungan sekitar kita, dalam hal ini mengabaikan apa yang menjadi hak orang lain.

Penguasaan diri.

Memiliki kuasa untuk mengontrol diri kita terhadap penggunaan media sosial yang berlebihan, yang dapat membuat kita menjadi pribadi yang “desosialisasi” dalam artian hanya berkomunikasi dengan diri sendiri.

By : Frencis Matheos Sarimole, M.Kom.

FR

 

 

 

 

Daftar Pustaka :

Gudykunst, William B dan Bella Mody, 2002, Handbook of International and Intercultural Communication 2nd Edition, United States of Amerika, Sage. .

http://www.journal.uad.ac.id/index.php/CHANNEL/article/viewFile/3270/1851

https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/download/7610/7370

http://jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/viewFile/13625/6455

https://www.kompasiana.com/amipratiwi18/5902e5578c7e61e71b2c3016/pengaruh-media-sosial-bagi-remaja ( diakses : minggu, 2 september 2018 – 20:32 wib).

https://xaesar.wordpress.com  ( diakses : senin, 3 september 2018 – 12: 45).