PRA-PASKAH MENUJU PASKAH

Masa Pra-paskah adalah masa dimana kita sebagai orang kristen melalui 40 hari sebelum hari kematian Tuhan. Biasanya yang melakukan masa Pra-Paskah adalah agama Kristen Katolik. Pra-Paskah ini memiliki beberapa nama nama hari, seperti Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, dan ada banyak lagi. Beberapa hari tersebut memiliki kegiatan kegiatan yang unik.

Masa Pra-Paskah

Rabu Abu adalah hari pertama dalam Pra-Paskah, di hari Rabu Abu ini biasanya orang Kristen pergi ke gereja untuk melakukan semacam ritual. Di gereja, orang Kristen memberi dahinya tanda salib dari abu sebagai upacara tersebut. Arti dari ritual tersebut memiliki arti bahwa kita sebagai umat Kristen mencurahkan hati kita sebagai tanda kesedihan, penyesalan, dan pertobatan. Namun untuk orang yang sudah berusia 18-59 diwajibkan berpuasa selama masa Pra-Paskah.

Rabu Abu

Kamis Putih adalah hari Kamis sebelum Paskah yang di laksanakan dengan tradisi untuk memperingati Perjamuan Malam terakhir yang dipimpin oleh Yesus. Tradisi ini dimulai biasanya pada pukul 6 sore, dan berlangsung selama 7 hari. Tradisi ini di ikuti dengan ritual Perjamuan Malam yang disebut Perjamuan Kudus / Ekaristi. Perjamuan Kudus ini biasa dilakukan pada setiap Misa (pergi berpencar atau di utus) / kebaktian dan pada saat itu juga pastur mencuci kaki umat umatnya sebagai peringatan Yesus yang mencuci kaki muridnya dalam perjamuan terakhir (pelayan Yesus di dunia sebelum kematian-Nya).

Kamis Putih

Jumat Agung adalah hari Jumat sebelum Minggu Paskah yang memperingati Penyaliban Yesus Kristus di Golgota. Jumat Agung ini dilanjutkan dengan hari Sabtu Suci. Sabtu Suci adalah hari terakhir sebelum Minggu Paskah yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai perayaan Paskah.

Jumat Agung

Dan akhirnya, sesudah melewati beberapa hari tersebut, orang kristen menyambut Minggu Paskah dengan cara Kebaktian gereja, Perjamuan keluarga, dan untuk anak anak biasanya melakukan pemburuan telur.

Paskah

Pendapat saya mengenai hari Pra-Paskah, sebenarnya terlihat sangat membosankan dan terasa tidak perlu. Tapi saya yakin jika kita melakukannya dengan iman dan penuh rasa semangat, kata membosankan dan terasa tidak perlu tersebut akan hilang, dan kita akan melakukannya dengan sepenuh hati kita sebagaimana layaknya kita seorang Kristen.

 

Timothy T-Tim Jurnalistik