[Alumni] Memutus Lingkaran Kebencian: Catatan Atas Novel “Ayahku Bukan Pembohong” Karya Tere Liye

Berikut adalah tulisan dari alumni SMAK PENABUR Harapan Indah. Relevan sekali dengan budaya literasi yang sekarang digalakkan di negeri kita saat ini, berikut artikelnya.

https://www.bernas.id/51933-memutus-lingkaran-kebencian-catatan-atas-novel-ayahku-bukan-pembohong-karya-tere-liye.html

Aldhi-Anarta-Farmasi-Universitas-Indonesia

Bernas.id – “Hari ini umurku empat puluh. Sudah dua puluh tahun aku berhenti mempercayai cerita Ayah. Bukan karena kehilangan semangat untuk mendengarkan kisah-kisah itu, bukan karena aku tidak bisa menghargai seorang ayah, tapi karena aku tahu persis, ayahku seorang pembohong. Dan di rumah ini, aku tidak akan membesarkan Zas dan Qon dengan dusta seperti yang dilakukan Ayah dahulu kepadaku. Mereka akan dibesarkan dengan kerja keras, bukan dongeng-dongeng palsu.” (Tere-Liye, 2011:7)

Kutipan di atas merupakan bagian dari novel karangan Tere-Liye, Ayahku Bukan Pembohong. Dalam kutipan ini terlihat jelas rasa jengkel dan kesal dari tokoh Dam terhadap ayahnya. Kebencian yang sudah disimpannya selama dua puluh tahun seakan menyeruak keluar manakala sang Ayah mulai menceritakan kisah-kisahnya kepada Zas dan Qon, anak-anak Dam, seolah tidak rela anak-anaknya ikut merasakan kebohongan-kebohongan sang Ayah, yang sebenarnya belum pernah dibuktikan.

Menurut Edward De Bono, dalam bukunya Teach Your Child How to Think, ada lima tingkat kebenaran nyata yang digunakan seseorang apabila tidak ada kebenaran absolut yang dapat diambilnya, meliputi kebenaran yang bisa diperiksa, kebenaran berdasar pengalaman pribadi,kebenaran berdasar pengalaman orang lain, kebenaran yang diterima secara umum, dan kebenaran karena otoritas. Kelima kebenaran nyata ini memiliki persamaan, sama-sama berkesempatan besar untuk salah. Dalam hal ini, Dam mengambil kebenaran berdasarkan pengalaman diri sendiri, meyakini bukti yang dilihat oleh mata sendiri. Menyimpulkan sesuatu sebagai suatu kebenaran berdasarkan sudut pandang dan pengertian diri sendiri tentunya memiliki kemungkinan yang besar bahwa kebenaran yang didapat belum tentu benar.

Kebenaran yang Rapuh

Ketika kebenaran yang masih rapuh tersebut digunakan sebagai sebuah dasar dalam menilai seseorang, tentu penilaian yang diberikan akan sangatlah keliru dan akan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru. Terlebih ketika penilaian yang salah tersebut menjadi alasan dalam membenci seseorang. Kebencian yang timbul karena alasan yang salah, akan menimbulkan kesalahpahaman yang berkepanjangan dan rasa sakit hati yang salah sasaran. Dalam tokoh Dam sendiri, terlihat betapa kehidupannya menjadi tidak tenang dan penuh pergumulan, yang muncul akibat kebenciannya terhadap ayahnya. Bukan sang Ayah yang justru merasa tesakiti dari kesalahpahaman yang timbul ini, namun dampaknya jelas signifikan terasa pada diri Dam sendiri, akibat dari penarikan kesimpulan atas sikap ayahnya tanpa alasan yang mendukung dan cenderung subjektif.

Kebencian Dam terhadap sang Ayah tidak berhenti di situ. Dam seolah ingin membawa rasa benci itu dalam keluarganya, dalam diri anak-anaknya, padahal keluarga sebagai wadah pendidikan pertama anak-anak memiliki beberapa fungsi esensial bagi perkembangan fisik dan mental anak, terutama fungsi sosialisasi nilai-nilai sebelum anak-anak masuk ke kehidupan social sebenarnya di lingkungannya (Friedman, 1998). Penanaman nilai yang salah dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan anak. Dam seperti ingin menurunkan rasa benci yang ia miliki kepada diri anak-anaknya, Zas dan Qon. Ternyata, tanpa sadar, Dam sendirilah yang berputar-putar dalam jalinan panjang kebencian dan kesalahpahaman ciptaannya sendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebencian adalah perasaan sangat tidak suka terhadap sesuatu, suatu benda, suatu pemikiran, atau suatu tindakan. Dalam kasus ini, Dam menaruh benci kepada ayahnya karena perilaku ayahnya yang suka menceritakan kebohongan-kebohongan kepada Dam dan anak-anaknya. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita-cerita yang disampaikan sang Ayah, Dam telah berupaya untuk membuat anak-anaknya ikut membenci kakeknya melalui tindakannya yang selalu melarang kakeknya bercerita dan menyebutnya pembohong, padahal menurut Maria Ulfah Anshor dalam buku Parenting with love: Panduan Islami Mendidik Anak, disebutkan bahwa dalam proses pendidikan anak-anak usia dini, salah satu cara anak memilah nilai-nilai yang baik dan buruk, adalah dengan mencontoh perilaku dan kebiasaan-kebiasaan orangtuanya. Anak-anak tentu menganggap apa yang dilakukan orangtuanya sebagai sesuatu yang baik dan wajar dilakukan. Padahal sikap Dam yang terang-terangan menunjukkan rasa benci kepada ayahnya, merupakan sebuah sikap yang menunjukkan kurangnya rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Secara tidak langsung Dam juga memberi konsep bahwa membenci orangtua itu tidaklah salah, padahal membenci orangtua merupakan sikap yang dipandang salah dalam masyarakat.

Seharusnya Dam sebagai orangtua tidak bisa mengajarkan anaknya sebuah nilai konkrit yang merupakan hasil pemikirannya sendiri, tetapi memberikan nilai-nilai dasar yang benar kepada anaknya, yang lebih lanjut akan dikembangkan sendiri oleh mereka. Dengan demikian, mereka dapat mengembangkan diri mereka dan membuka pikiran mereka, melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga kebencian Dam terhadap sang Ayah tidak perlu diteruskan, bahkan harusnya dapat dihilangkan dengan pandangan-pandangan baru yang dikemukakan oleh Zas dan Qon, bukannya justru memperpanjang tali kebencian yang sebenarnya berwujud seperti sebuah lingkaran yang tidak putus, akan kembali terulang dan terulang pada generasi-generasi selanjutnya, yang mungkin akan berubah bentuknya serta objek kebenciannya.

Kebencian dan Prasangka SARA

Dalam novel “Ayahku Bukan Pembohong”, diceritakan dengan jelas bagaimana sikap Dam yang ingin menanamkan rasa benci terhadap sang Kakek kepada anak-anaknya. Ia tidak ingin anaknya menjalani hidup yang penuh kebohongan, maka ia sekuat tenaga berusaha menghentikan cerita-cerita ayahnya, meskipun itu harus melukai perasaan sang Ayah. Dalam kehidupan ini, juga banyak perseteruan antar golongan yang sudah berlangsung selama berpuluh-puluh generasi, dengan alasan-alasan yang mungkin sudah tidak relevan lagi, atau lebih buruk, berseteru tanpa mengerti duduk permasalahan sebenarnya. Hal ini dapat terjadi akibat suatu tradisi, dimana masing-masing pihak yang berseteru terus menanamkan kebencian kepada generasi-generasi berikutnya, menyebabkan suatu konflik berkepanjangan dan lingkaran kebencian.

Salah satu topik sensitif yang juga menjadi kebencian yang berkepanjangan adalah konfik berbau sara. Stigma buruk antar agama atau etnis dan golongan tetap dipertahankan, membuat massa semakin mudah terprovokasi bahkan oleh hal-hal kecil sekalipun. Konflik antara agama Kristen dan Islam, antar negara barat dan timur, merupakan suatu perseteruan yang sudah berlangsung semenjak lama sekali, tanpa bisa menjelaskan kesalahan dari masing-masing pihak. Pandangan bahwa agama Islam adalah agama teroris terus digaungkan tanpa ada dasar yang jelas, padahal tidak semua orang Islam adalah teroris. Menurut Afadlal dalam bukunya Islam dan Radikalisme di Indonesia, menyatakan bahwa salah satu faktor terbesar munculnya stereotip teroris pada Islam adalah ajaran dagi golongan fundamentalis dan fanatic, dan bukan dari agama Islam secara keseluruhan. Kelompok politik Islam radikal seperti Hamas juga mengambil sikap moderat dalam mempertahankan cita-cita politiknya. Sementara pihak lain yang bersengketa terus merasa paling benar, bersembunyi dibalik stigma negatif yang tidak diusahakan untuk diklarifikasi, tetapi terus dipublikasi. Dari generasi yang satu ke generasi lainnya.

Demikian yang terjadi dalam konflik antara warga keturunan pendatang dan warga pribumi di Indonesia, perpindahan dan pertemuan dua buah kelompok penduduk berbeda latar belakang dan kebudayaan, bukannya tidak membawa dampak buruk, terlebih apabila salah satu kelompok yang bersengketa merupakan penduduk asli dan merasa memiliki hak atas wilayah tersebut. Menurut Koetjaranigrat dalam Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat (2007:111), menyatakan bahwa salah satu alasan munculnya potensi konflik sosial dalam dua etnik yang berbeda adalah sikap prasangka etnik, sesama etnik saling memberi cap negatif berdasarkan kebenaran versi masing-masing kelompok, yang tentu saja mungkin salah. Selain itu, keterikatan pada folkways dan indentitas diri memperkuat rasa in group yang meremehkan kelompok luar. Potensi konflik yang ada juga diperkuat oleh kristalisasi etnis yang semakin memperjelas batas-batas kekitaan dan kemerekaan, yang terus ditanamkan kepada anak-anak penerus etnis mereka berikutnya.

Penutup

Seharusnya Dam lebih bijaksana dalam menyikapi perasaan benci kepada ayahnya. Jika ia merasa cerita-cerita ayahnya memberi dampak buruk, ia dapat melakukan cara-cara lain ketimbang harus memberi mindset yang negatif kepada Zas dan Qon. Ia dapat membicarakannya secara baik-baik kepada sang Ayah, atau ia dapat memberi pengertian kepada anak-anaknya bahwa cerita-cerita tersebut tidaklah benar. Namun, cara yang paling bijak adalah dengan mengecek kebenaran dari cerita-cerita tersebut, tidak hanya bermodalkan pemikirannya dan pengalamannya sendiri. Di lain pihak, baik cerita tersebut nyata ataupun bohong, tentu ada nilai-nilai positif yang dapat ia ambil dan ajarkan  kepada anak-anaknya, jauh lebih menbangun dan postif daripada hanya berfokus pada sisi buruk cerita tersebut dan terpaku pada kebencian Dam kepada sang Ayah. Yang terutama, Dam seharusnya tidak boleh menurunkan rasa bencinya terhadap ayahnya kepada siapapun juga, terutama anak-anaknya. (*Penulis: Aldhi Anarta, Mahasiswa Farmasi Universitas Indonesia)

 

Daftar Pustaka

Afadlal. 2004. Islam dan Radikalisme di Indonesia. Jakarta: LIPI.

De Bono, Edward. 1993. Teach. Your Child How to Think. Bandung: Khaifa.

Liye, Tere. 2011. Ayahku Bukan Pembohong. Jakarta: Gramedia.

Suprajitno. 2003. Asuhan Keperawatan Keluarga: Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta: Buku Kedokteran ECG.

Ulfah Anshor, Maria. 2010. Parenting with love: Panduan Islami Mendidik Anak. Bandung: Mizania.

Waluya, Bagja. 2007. Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Bandung: PT Setia Purna Inves.